Welcome to Digibox

Jasa Pembuatan Video Company Profile

Jangan tunda lagi, dapatkan segera Video Company Profile untuk mengenalkan produk ataupun bisnis mu ke masyarakat luas! Hub. kami Digibox Production : 0431-840412, 085291569777.

Hot Sale 20% 3D Animasi

Kami melayani Jasa Pembuatan 3D Animasi, modeling karakter/mobil,desain produk, desain interior/exterior baik architectural, interior design, Jasa gambar 3D Rendering Visualisasi untuk presentasi anda.

Jasa Web Development

Sebagai web developer dan web designer, Webbox siap merancang web design, web development dan web maintenance untuk perusahaan dan personal.

Jasa Pembuatan TV Kabel

Digibox Broadcast Solution bergerak dibidang jasa pembuatan tv kabel dan konsultan tv kabel, bagi Anda yang berminat untuk berbisnis TV Kabel hubungi kami.

Hardy Mynhart Photography

Kami melayani Jasa Liputan Foto dan Video di Manado dan sekitarnya untuk Dokumentasi Liputan Wedding, Acara, Event dan Kegiatan Anda, kami juga melayani Photobooth untuk wedding, birthday, gathering dan event lainnya.

Showing posts with label Photografi. Show all posts
Showing posts with label Photografi. Show all posts

Saturday, 29 May 2010

Teknik Kreatif Exposure

Aduh. Exposure tuh apa an sih? Kok kayaknya exposurenya terlalu gelap yah? Apa gak terlalu OE (Over exposed) tuh poto? Duh, seharusnya exposure saya harusnya gimana sih?
Tenang saudara saudari sekalian. Saya meluangkan waktu saya dengan menulis artikel ini bukannya saya sok pinter ato gimana tapi ingin rasanya saya berbagi pengetahuan dan pengalaman saya sama yang butuh aja deh biar ngerti apa sih itu kreatif EXPOSURE?

Semoga sehabis baca artikel ini, kalian akan mendapatkan sesuatu yang baru dan dapat di implementasikan di teknik fotografi kalian. Setelah membaca artikel ini saya berharap anda bisa:

Mengerti apa itu Aperture, Shutter Speed dan ISO
Mengerti apa itu Aperture Priority, Shutter Priority, Manual Aperture and Shutter dan kapan paling efektif untuk memakainya.
Mengerti apa itu Panning teknik dan bagaimana sih biar bisa panning?
Mengerti tentang Depth of Field dan bagaimana Aperture bertanggung jawab atas ini.
Mengerti tentang Shutter Speed tentang pembekuan gerakan, menghasilkan efek arus (flowing effect)
Mengerti tentang kompensasi ISO sensitifiti dari film
Mengerti apa itu Bracketing dan efeknya terhadap exposure yang benar dan/atau sempurna
Dalam artikel ini saya asumsikan bahwa camera anda setidaknya bisa di setting ke Manual, lebih baik lagi jika kamera anda adalah Digital atau Analog SLR Camera. Kamera yang saya gunakan adalah Nikon Digital SLR Camera D100 tetapi secara garis besar, maksud arti garis besar artikel ini bisa di implementasikan di fotografi secara general. Memang setiap fotografer mempunyai definisi dan style tersendiri dalam approachnya terhadap fotografi. Artikel ini tidak menyalahkan dan saya tidak membenarkan diri saya sendiri dalam topik exposure secara general. Selamat membaca.


PERFECT EXPOSURE

Ok. Kalau kalian bertanya "Seharusnya exposure saya gimana sih?" yah gampang sih jawabnya, "Exposure anda harus bener!" ya kan? Nah, exposure itu bisa di golongkan kepada 3 nama yang saling erat hubungannya, mereka adalah:

Aperture = bukaan diafragma lensa biasanya dalam ukuran f/2.8, f/5.6 dan seterusnya�
Shutter Speed = bukaan berapa lama film menerima cahaya sewaktu diafragma di buka; dalam ukuran 2s, 1/250s ,1/500s, dan seterusnya (s = seconds, detik)
ISO, Speed of the film = internasional standard untuk sensitifnya film. contoh: ISO 400 lebih sensitif daripada ISO 200, ISO 200 lebih sensitif daripada ISO 100, dan seterusnya.
Ya ampun apaan sih nih kamera kok ada Manual, Aperture Priority, Shutter Priority, Automatic? kan lebih asik automatic dong?

"Ok, bukannya kalo saya set aja ke P�(Automatic atau Program Mode) terus kan tinggal saya jepret aja kan semuanya sudah di atur otomatis, nah terus ngapain harus ngerti 3 bahasa aneh di atas coba?". Nah kalo anda sudah puas sama�P ( Automatic atau Program Mode) exposure setting camera anda, ya ngapain di terusin baca artikel ini? saya yakin dengan pengertian yang mendalam dan tentunya experiment antara 3 nama di atas, anda pasti lebih mendapatkan exposure yang lebih baik atau lebih banyak kesempatan anda akan mendapatkan exposure yang sempurna. Bukankah lebih baik untuk mempelajari Manual?

Nah sekarang coba liat di viewfinder (itu lho kotak kecil yang anda lihat di camera untuk motret) di sana pasti ada semace gini nih: +'''''0'''''''- ya kan? Nah jika anda memutar control dial di camera anda, tanda panah akan bergeser sesuai dengan yang anda hendaki, jika anda mutar ke kanan, panahnya ke kanan, kalo ke kiri ya panahnya ke kiri. Biasanya kalau ke kiri valuenya semakin besar atao ke positif kalo ke kiri valuenya semakin kecil dan ke arah negatif.

Aperture priority (biasanya A atau Av)

Dalam mode ini, anda secara manual memilih lens aperture dan camera anda yang secara otomatis akan memilih shutter speed. Coba set camera anda ke Aperture Priority, nah di Aperture priority, anda ngatur Aperturenya secara manual, dan camera anda akan mengatur Shutter Speed secara otomatis untuk memberikan exposure yang kamera anda pikir "PERFECT".

Saya memilih penggunaan Aperture Priority ini bila keadaan:

. Cahaya sekeliling sangat minimal. Contoh: dalam event medical conference atau dalam event pesta wisuda adik saya, saya memilih setting kamera saya ke A, karena saya ingin kamera saya yang memilih shutter secepat mungkin untuk mendapatkan exposure yang sempurna dan dengan setting Aperture yang saya hendaki.

. Saya menginginkan maksimum depth-of-field dan objectnya tuh tidak bergerak. Contoh: dalam poto saya di bawah Golden Gate di San Francisco, saya memilih Aperture sekecil itu untuk memaksimumkan Depth of Field (akan di bahas di bawah ini)

Shutter Priority (biasanya S)

Di dalam mode ini, anda memilih shutter speed secara manual dan meter kamera anda akan memilih aperture secara otomatis. Sama dengan Aperture Priority tetapi kali ini yang anda prioritaskan, dalam kata lain yang anda bisa ngatur itu yah shutter speednya, camera anda akan mengatur Aperture secara automatis yang di pikir kamera anda exposurenya "PERFECT". Karena menurut saya, hanya dengan Shutter Priority ini lah kita bisa:

a. FREEZE MOTION = pembekuan gerakan yang terekam di film, dan
b. IMPLYING MOTION = untuk menghasilkan flowing effect, yang bersifat memberikan efek gerakan

Saya memaksimalkan penggunaan Shutter Priority ini dalam:

. Panning teknik. Panning adalah teknik perekaman object yang bergerak sehingga menghasilkan effect gerakan dan bisa terlihat jika object yang terfokus adalah object yang sedang moving atau bergerak.

Contoh Panning:









Ok, ada 3 rahasia untuk mendapatkan hasil panning yang memuaskan:

Rahasia #1: Anda harus PARALEL dengan object yang bergerak itu. Dari contoh di bawah ini, saya dengar "nguing2" dari kejauhan terus saya siapkan kamera saya dan saya melihat mobil pemadam kebakaran dari arah kiri saya, saya tunggu sampai mobilnya tuh persis di depan saya, dan saya langsung pencet shutter dan badan saya ngikutin arahnya mobilnya melaju setelah memencet shutternya.

Rahasia #2: Pilihlah Shutter Speed yang paling cocok untuk objek yang bergerak itu. Biasanya saya pilih Shutter 1/20 atau 1/30 untuk panning teknik saya. Dalam contoh saya di bawah ini, saya memakai Shutter 1/20

Rahasia #3: Jangan pakai tripod. Pakailah badan anda sebagai tumpuan yang mengayun dari kiri ke kanan atau sebaliknya searah dengan object yang akan di potret.


Manual Exposure (biasanya M)

Nah Manual Exposure ini lah yang memungkinkan kita mengatur sendiri panah2 tadi yang sudah saya jelaskan di atas untuk mendapatkan exposure yang KITA hendaki "PERFECT EXPOSURE" sekali lagi, bukan kamera kita yang mikir perfect tapi kita sendiri. Karena di Manual inilah kita bisa mengatur Aperture dan Shutter Speed secara manual.


"Nah terus apa hubungannya di antara tiga bahasa aneh dan jelek di atas itu, apa sih tadi Aperture, Shutter Speed dan ISO, huh?" Ok. Nih saya jelasin yah.

1. APERTURE (Diafragma)

Aperture adalah bukaan lensa untuk mengatur berapa banyak cahaya yang masuk. Ukuran aperture biasanya bisa di liat dengan f/ number. Semakin besar nomer f/ nya semakin kecil bukaan lensanya. Dengan kata lain, semakin kecil nomer f/ nya, semakin GEDE bukaan lensanya. CONTOH: f/2.8 bukaannya lensanya tuh lebih besar daripada f/11. Aperture ini lah yang biasanya orang orang di kritik fotografer.net pada bilang "Wahhhh bagus bener DOFnya, bagus bener pemandangannya!" Nah sekarang ngerti kan kalo Aperture ini adalah sang komandan yang bertanggung jawab atas wilayah ketajaman di dalam satu foto. DOF, kepanjangan dari Depth-of-Field, yaitu wilayah di sekeliling subject yang di rekam oleh camera yang layak tampil tajam di hasil potonya.

Aperture1 (Semakin besar aperture kita, semakin sedikit wilayah ketajaman poto kita, shallow depth-of-field):


Nah di contoh ini, data photo saya adalah: 1/3200s f/3.5 at 200.0mm. Kalo anda perhatiin, tuh di backgroundnya ga keliatan apa apa yah? Jelek yah poto ini? hmm mungkin aja saya cuman mau lebih fokus ke kepala burungnya saja, jadi mungkin waktu motret ini saya ga peduli ama background jadi ya saya pilih aja f/3.5 nah Aperture saya bisa di katakan "Big Aperture" kalo lebih besar lagi adalah f/1.8.




Aperture2 (Semakin kecil aperture kita, semakin banyak wilayah ketajaman poto kita, bigger depth-of-field):

Nah di contoh yang ini, data poto saya adalah: 1/2s f/22.0 at 12.0mm. Kalo sekali lagi anda perhatiin deh, tuh dari depan dari kayu yang jelek itu sampe belakang gunung kan semuanya fokus. Dengan ini, berani saya menyatakan "Small Aperture" kalo lebih small lagi ya f/32.
Ukuran Aperture dalam perbedaan ukuran satu stop adalah:
f/2 -> f/2.8 -> f/4 -> f/5.8 -> f/8 -> f/11 -> f/16 -> f/22

Dari f/2 sampe ke f/2.8 di katakan Aperturenya turun 1 stop dalam kata laen -1. Dari f/4 turun 3 stop ke f/11. Di katakan turun adalah jumlah cahaya yang masuk melalui diafragma kan lebih sedikit jadi oleh karena itu di katakan turun.


2. SHUTTER SPEED (Kecepatan penutup lensa)

Nah apa ini? Kalo tadi Aperture kan ngatur berapa banyak cahaya yang masuk kan? Nah kalo Shutter Speed ini ngatur berapa lama cahaya itu masuk ke film. Contohnya: shutter speed 2s (2 detik) tentunya cahaya yang masuk lebih lama ya kan? kalo shutter speed 1/1000s ( 1/1000 detik lho) ya jelas aja cahaya yang masuk cuman sekilat aja. Gampang kan?


Shutter speed 1 (semakin lambat shutter speed, cahaya yang di peroleh film akan semakin banyak)


Nah di contoh foto ini, data saya adalah: 4s f/16.0 at 38.0mm . Wow, 4 detik! iya dong.. kalo ga gitu kan ga bisa create kayak gini tuh liat airnya kayak kapas gitu halus dan seperti awan2 gitu kan? Ini di karenakan cahaya yang masuk lebih lama oleh karena itu cahaya yang terekan di film akan seolah-olah menghasilkan effect seperti water flowing (air yang mengalir)

Shutter speed 2 (semakin cepat shutter speed, cahaya yang di peroleh film akan semakin sedikit, lebih untuk ke FREEZE MOTION, yakni untuk membekukan gerakan)


Nah di contoh foto ini, kali ini partner saya akan marah kepada saya jika saya minta dia untuk lompat sambil menendangkan kakinya di atas langit terus-terusan. Oleh karena itu saya pilih fast shutter speed untuk membekukan gerakan teman saya yang jago kungfu ini.
Urutan Shutter Speed dalam perbedaan ukuran satu stop adalah:

1/8 -> 1/15-> 1/30 ->1/60 ->1/125 ->1/250 ->1/500 ->1/1000 (dalam detik)

3. ISO, Speed of Film
Begini saja, anggap saja ISO ini adalah kumbang yang bekerja di dalam camera anda. Kalo di camera saya saya set ke ISO 400 berarti saya mempunyai 400 kumbang yang bekerja, jika anda set camera anda ke ISO 100 berarti anda cuman punya 100 kumbang untuk bekerja di dalam kamera anda.

Nah ukuran ISO dalam perbedaan satu stop adalah:
100 ->200 ->400-> 800 ->1600
ISO 800 adalah 3 kali lebih sensitif daripada ISO 100 (lebih sensitif terhadap cahaya 3 stop), tetapi hasil potonya mungkin agak grainy (seperti berpasir) Nah dalam hal ini lah yang harus menjadi pertimbangan anda kapan harus kompensasi demikian.


Nah topik saya yang terakhir adalah tentang bracketing.

Bracketing.

What is bracketing? Bracketing adalah suatu teknik yang di manfaatkan oleh profesional untuk mendapatkan exposure yang tepat di dalam kondisi cahaya yang menantang (menurut: photoxels.com) dan biasanya yang motret meng-over expose +1 dan meng-under expose -1, tergantung dari style fotografernya sendiri-sendiri. Seperti yang saya jelaskan di atas atas banget yang tadi tentang Aperture Priority, Shutter, ataupun Manual Exposure priority, kamera kan punya built-in light meter dan sensor di dalamnya yang ada tanda +''''0''''- tadi itu bila anda tujukan tanda panahnya ke 0, kamera anda seperti mengatakan "Iya bos, ini menurut saya perfect kok exposurenya!" Nah dalam bracketing, si fotografer yah boleh di katakan percaya sama kameranya dan jepret di posisi panah menunjukan 0, PLUS si fotografer tadi, sengaja menujukan panah ke arah +1 stop dan -1 stop untuk bracket exposure.

Contoh bracketing:

Si fotografer melihat mobil ferari di tengah jalan yang sangat terang sekali cuaca bagus banget deh. Dia set camera barunya ke Aperture Priority dengan ukuran diafragma f/2.8 karena dia maunya mobilnya yang terlihat tajam sedangkan backgroundnya blur (out of focus). Si fotografer melihat dalam viewfinder dan menyetel panah sehingga sampe di 0 dan menemukan bahwa shutter speednya harus 1/250.
Nah di sini si fotografer bracket exposure ini sehingga mempunyai 3 poto.
Poto 1 = fotografer di atas menjepretkan exposurenya f/2.8 shutter speed 1/250
Poto 2 = fotografer sengaja membuat shutter speed ke 1/125 masih tetep f/2.8
Poto 3 = fotografer sengaja membuat shutter speed ke 1/500 masih tetep f/2.8

Nah sekarang si fotografer tadi adalah orang terbahagia di dunia karena setiap kali dia memotret sesuatu yang dia suka, dia akan mem-bracket exposurenya dan dia yakin di antara 3 poto tersebut pasti salah satunya adalah poto dengan perfect exposure.

Kalo saya sih kurang suka membracket tetapi saya menggunakan Zone System buat exposure guide saya. Penggunaan Zone System tidak saya bahas di artikel saya ini karena akan menjauh dari topik dan scope artikel saya tetapi banyak artikel di internet yang mengajarkan teknik Zone System untuk creative exposure control technique. 

Sumber : Donny Kurniawan/Fotografer.net

Fotografi Makro

Fotografi adalah dua kata yang berarti Photos dan Graphos,
dimana arti secara harfiahnya adalah “Melukis dengan Cahaya”.
Didalam kategori dunia fotografi kita akan menemui salah satunya adalah fotografi makro.Yang mana pada saat ini sedang mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan sangat menarik untuk di pelajari serta di dalami.
Mengapa Makro? Jawabannya mungkin banyak sekali, dan bahkan tidak akan mencukupi bila disebutkan semuanya disini.

Secara garis besarnya fotografi makro diperlukan antara lain:
Untuk bahan Scientific/ identifikasi species (satwa/tumbuh2an).
Untuk Engineering, metallurgy, manufacture.
Untuk tujuan promosi/marketing suatu benda/hewan/tumbuh2an .
Untuk keindahan , bahwa di dunia ini ada makhluk lain cipta’an Tuhan yang tidak bisa kita melihat keindahannya dengan mata biasa.
Dan masih banyak lainnya.


Detail suatu benda/object, komposisi dan bentuk suatu benda yang kecil, pastilah kita akan selalu luput memperhatikannya, maka dengan makro fotografi kita akan bisa melihat dengan jelas secara detail, baik warna maupun bentuknya.
Jadi melalui fotografi makro kita dapat melihat dengan jelas detail mata/facet sebuah lalat (yang mungkin kita akan jijik ketika melihat lalatnya) akan menjadi indah bentuk dan warnanya, proses penyerbukan putik pada bunga oleh lebah, kupu2 yang sedang menghisap madu, lekuk detail ukiran sebuah koin, bahkan membekukan sebuah lebah yang sedang terbang.
Seiring dengan bertambah majunya era digitalisasi saat ini, mempelajari fotografi makro adalah hal yang tidak sulit, tidak seperti di era fotografi saat masih menggunakan kamera analog plus negative film.
Oleh sebab itu pada saat era digital saa ini, fotografi makro dapat dilakukan oleh siapa saja ,tua maupun muda, lelaki atau perempuan, bahkan untuk fotogafer pemula dan kamera yang bukan pro, asal saja dilakukan dengan sungguh-sungguh .


Fotografi Makro

Fotografi makro adalah salah satu kategori fotografi yang membuat pembesaran terhadap suatu object. Atau bisa dengan kata lain dunia fotografi yang diperkecil kedalam dunia Micro.
Pembesaran tersebut bisa dilakukan dengan medekatkan obect dengan kamera, atau pun dari jarak terentu dengan menggunakan lensa tele. dan harus tetap mengusung konsep “Foto yang berbicara” dengan melibatkan unsur komposisi, POI dan keseimbangan.

Benda-benda yang dapat di makro adalah:
Ø Benda mati/diam
Seperti: sendok/garpu,perhiasan, uang koin, perangko,bunga,miniature mobil2an, souvenir dll
Ø Makhluk hidup
Seperti : serangga, kupu-kupu, bunga tanaman, laba2, dll
Alat bantu untuk fotografi makro:

* Kamera Saku/Prosumer
Dengan kamera saku/prosumer pun kita bisa mengabadikan keindahan sebuah bunga mawar, sebuah kupu2 yang hinggap di bunga untuk menghisap madunya. Karena saat ini tekhnologi digital telah memungkinkan kita untuk melakukan fotografi makro dengan hasil yang tidak kalah bagusnya dengan kamera professional. Hampir semua kamera saku/prosumer yang sudah menyediakan fasilitas macro (biasanya ditandai dengan lambing gambar bunga tulip). Dan memungkinkan kita memotret dengan jarak focus kamera dan bendanya hingga beberapa sentimeter saja.
Saat ini sudah tersedia filter/alat tambahan yang dapat di pasang di kamera saku didepan lensanya untuk fotografi makro seperti Raynox dan filter lainnya untuk mendapatkan pembesaran yang lebih .

* Kamera SLR (Single Lens Reflex) baik analog maupun digital.
Semua kamera SLRDSLR kini sudah memiliki fasilitas untuk fotografi makro dengan menggunakan lensa yang berbeda-beda , dan biasanya jarak antara focus lensa ke objectnya akan berbeda tergantung jenis lensa yang kita gunakan.
Untuk lensa khusus makro biasanya jarak object ke lensa bisa sampai 20 cm, tapi apabila kita menggunakan lensa tele maka jarak terdekat yang bisa kita dapatkan titik focus biasanya lebih dari 1 meter dari object.
Sekarang telah banyak tersedia alat tambahan berupa filter close up,filter Lup/Raynox dan reverse lens (sebuah lensa yang dimodifikasi) yang di tempelkan didepan lensa, maka jarak antara object dan lensa akan semakin dekat untuk mendapatkan pembesaran lebih dari 1:1. Dan ada juga tele converter dan extension tube yang dipasang diantara lensa dan odi kamera.



Pembagian fotografi makro menggunakan kamera SLR/DSLR

Umum:
Menggunakan lensa khusus makro atau lensa zoom yang bertanda “bunga tulip”(bisa untuk foto makro )
Menggunakan lensa tele atau lensa normal plus tele converter..

Untuk lebih jelasnya maka lensa2 dibawah ini adalah yang biasa di pergunakan untuk fotografi makro:
# Lensa Makro Normal : 50mm
# Lensa Makro Mid tele : 90-105mm
# Lensa Makro Tele : 150-180mm

Ekstrem:
Memasang lensa tambahan lagi dengan posisi terbalik didepan lensa dengan tambahan sebuah adapter khusus.
Menggunakan filter tambahan seperti filter close-up didepan lensa.
Memakai filter yang seperti sifatnya sebuah kaca pembesar/Lup , Raynox,
Atau bahkan ada juga yang menambahkan sebuah kaca pembesar yang di lekatkan didepan lensa.


Beberapa hal yang harus diperhatikan selama pemotretan makro adalah:

Lighting (sumber cahaya)
Dibagi dalam 2 :
# Natural lighting/cahaya alam/Matahari/available light
# Artifisial lighting (Flash dan lampu studio)

Depth Of Field (DoF)
DOF (kedalaman fokus) dalam fotografi makro, ruang ketajaman suatu foto akan indah bisa dilihat jikalau sesuai dengan object yang akan kita abadikan.
Karena semakin dekat jarak antara titik focus kamera dengan object maka akan semakin tipis/sempit DoFnya, ini dapat kita control dengan mengatur bukaan diafraga dari lensa nya. Tentunya kita tak akan menghasilkan foto kupu2 yang hanya tajam dibagian mata saja sementara keindahan dari warna sayapnya menjadi blur.
Jadi jikalau kita ingin mendapatkan DoF yang lebih lebar, tetapi jarak antara lensa dengan objectnya ingin lebih dekat, maka bukaan difragma haruslah di set semakin kecil nilainya (biasanya antara f/5.6 bisa sampai f/16).
Faktor yang mempengaruhi DoF adalah :
Panjang Lensa :makin panjang lensa makin tipis DOF yang akan dihasilkan
Jarak focus : Makin dekat jarak focus suatu object dari lensa, makin tipis DoF yang akan dihasilkan.
Diafragma: Makin besar bukaan lensa (f/2.8) makin tipis DoF yang akan dihasilkan.

Jadi kesimpulannya, DoF yang dihasilkan adalah kombinasi dari ke 3 variabel tsb.
Pada fotografi makro, DoF yang akan dihasilkan relative sangatlah tipis (kebalikan dari pemotretan landscape).

Fokus
# Auto fokus
# Manual fokus

Focusing pada fotografi makro tidaklah sulit apabila kita lakukan pada benda mati/diam. Tapi akan sangatlah sulit jikalau kita melakukannya pada benda yang bergerak seperti serangga yang selalu beterbangan.
Walaupun kini semua lensa sudah dilengkapi dengan fitur auto focus, tapi tidaklah semuanya memiliki kecepatan seperti yang kita harapkan dalam mengikuti object yang bergerak tersebut, jadi manual focusing sangatlah dibutuhkan dalam hal ini.
Setelah cukup terbiasa mendapatkan fokuc yang baik, barulah mencoba mengatur komposisi yang bagus.

Komposisi
Membuat komposisi agar sesuai dengan kaidah “Rule Of Third” sangatlah sulit, karena object yang akan kita foto selalu bergerak dan sangatlah kecil, kadangkala seluruh object tersebut mengisi frame kamera sepenuhnya.
Hanya dengan sering berlatih dan berlatihlah maka akan didapat komposisi yang bagus dan kreatifitas seorang fotografer sangatlah berperan sekali dalam menentukan komposisi antara foreground, background yang mendukung object (POI-Point of Interest) dengan DOF yang pas.

Lokasi
# Indoor
Didalam ruangan biasanya menggunakan lampu tambahan seperti flash, ringflash, atau bahkan lampu studio.
# Outdoor
Diluar ruangan kita selalu memanfaatkan cahaya matahari sebagai available lightingnya. Biasanya saat yang tepat untuk memotret makro adalah di pagi hari sampai jam 9 pagi, atau di sore hari jam 3-5 sore.

Tripod atau handheld
Disaat penggunaan flash tidak memungkinkan (karena serangga yang akan kita foto akan lari menjauh) maka untuk mendapatkan eksposure yang baik antara bukaan diafragma yang kecil (agar DOFnya lebih lebar) dan shutter speed sementara shutter speed yang kita dapat sangat rendah rendah, maka penggunaan tripod/monopod sangatlah di butuhkan agar hasil fotonya tidak menjadi blur.
Untuk jelasnya apabila shutter speed kita dibawah/lebih rendah/kecil dari 1/FL(Focal length) lensa yang dipergunakan maka sebaiknya pergunakanlah tripod/monopod. Contohnya kita memakai lensa yang 100mm, maka apabila shutter speed yang didapat di kamera 1/60 sebaiknya memakai tripod/monopod agar /object moment yang akan kita abadikan tidak menjadi blur.
Penggunaan tripod sangat membantu dalam pengambilan foto makro terutama disaat cuaca/matahari tidak sedang terik .
Monopod lebih flexible terutama dalam pengambilan foto makro serangga.

Mood dan kesabaran
Memotet adalah seperti halnya kita melukis sebuah kanvas putih, yang akan di lukis dengan menggunakan cahaya. Mood seorang fotografer akan tertuang dikanvas elektronik tersebut saat mengabadikannya.
Makro fotografi sangatlah menuntut kesabaran yang sangat tinggi dalam memotret sebuah bunga mawar apalagi seekor kupu2/lebah yang sedang sibuk menghisap madu di bunga.
Ingatlah, focus, eksposure dan komposisi dari object yang akan kita lukis di kamera apakah sudah seperti yang akan kita abadikan sesuai dengan mood nya.

Moment dan keberuntungan
Moment tidaklah sesulit seperti yang kita bayangkan, kita bisa mempelajari waktu, kebiasaan dan tempat dari setiap serangga keluar (pada umumnya pagi). Atau saat yang tepat/terbaik kapan sebuah bunga mawar akan mekar.
Kadang kala factor keberuntungan lah yang mempertemukan fotografer dengan objectnya.
Tapi janganlah lupa, jikalau kita tidak mendapatkan object baik dan menarik lantas tidak mau berusaha mengulanginya esok harinya.
Karena kunci dari fotografi makro adalah teerus berlatih dan terus berusaha semaksimal mungkin.

Beberapa tips & trik makro fotografi serangga dan bunga.

# Pelajari /baca wajah daripada object:
Pada saat memotret makro serangga, buatlah foto saat dia sedang berpose, tunggulah momen saat mata serangga tsb terpaku ke lensa.
Bila memotret bunga, perhatikan dan carilah sisi terbaik dari penampilan bunga tsb. Apakah harus mengambil angle secara keseluruhan, atau hanya diperlukan bagian kecil seperti putik atau benang sarinya.
Bereksperimenlah dengan berbagai arah dan anglenya.

# Background yang bersih:
Usahakan semaksimalnya BG/background itu bersih/simple yang mendukung POInya. Kalaupun ingin mendapatkan BG hitam (warna lain) bisa disiasati dengan menggunakan kain berwarna sebagai BGnya.

# Hindari Angin:
Memotret makro pada saat angin bertiup adalah hal yang sia2, karena kita akan mendapatkan hasil yang blur, bisa juga disiasati dengan mengatur shutter speed yang cepat, tapi sebisa mungkin hindarilah memotret makro disaat angin sedang bertiup sehingga akan membuat goyangan pada objectnya.

# Sabar menunggu momen yang tepat:
Pada saat berburu/hunting makro khususnya serangga, usahakan berdiam diri sehingga segala tidak menarik perhatian serangga tsb.
Apabila kita akan mendekati object, usahakan agar gerakan kita tidak membuat serangga tsb melarikan diri meninggalkan kita.
Dan apabila memotret serangga yang menempel pada bunga, cari posisi yang tepat pada saat dia sedang menghisap madu atau pada saat dia keluar dari bunga adalah moment yang sangat bagus untuk diabadikan.

# Tahan napas saat menekan shutter kamera.
Membuat posisi spt segitiga antara lengan dan siku yang ditempel kedada kita akan memperkokoh pegangan kamera, ditambah dengan menahan napas sesaat pada waktu menekan shutter kamera akan mengurangi kemungkinan kamera shake dan bisa menghindari hasil foto yang blur/shake.

# Tambahan cahaya:
Walaupun cahaya tambahan seperti flash adalah tidak dianjurkan, tapi jika dengan menggunakan diffuser atau peredam cahaya pada flash akan membuat halus hasil fotonya dan tidak akan terlau keras kontras yang dihasilkan pada objectnya.
Hindari direct flash ,atau tambahkan difusser pada flash, atau gunakan tekhnik bouncing untuk mendapatkan dimensi dari object .



Tulisan ini adalah sharing saya dari berbagai pengalaman yang saya dapatkan sejak 10 Juni 2006 , saat dimana saya bergabung dengan situs fotografi tercinta www.fotografer.net ini.
Intinya saya dapatkan dari berbagai w/shop, buku, dan juga pengalaman dari rekan-rekan lain yang sudah lebih dahulu menguasai ilmu fotografi makro.
Tiada maksud ingin menggurui rekan2 semua, karena masih banyak kekurangan yang saya miliki dibandingkan dengan para senior yang sudah lama berkecimpung di dunia fotografi makro.
Semua contoh-contoh foto yang ada di artikel ini adalah hasil dari sejak saya bergabung di situs ini.

Semoga bisa bermanfaat bagi rekan2 sesama pecinta fotografi khususnya dunia makro dan akhir kata terima kasih saya ucapkan atas kesediaanya untuk membaca artikel ini dan saya mohon ma'af apabila artikel ini masih jauh dari sempurna

Teknik Dasar Fotografi

Teknik-teknik dasar pemotretan adalah suatu hal yang harus dikuasai agar dapat menghasilkan foto yang baik. Kriteria foto yang baik sebenarnya berbeda-beda bagi setiap orang, namun ada sebuah kesamaan pendapat yang dapat dijadikan acuan. Foto yang baik memiliki ketajaman gambar (fokus) dan pencahayaan (eksposure) yang tepat.

A. FOKUS
Focusing ialah kegiatan mengatur ketajaman objek foto, dilakukan dengan memutar ring fokus pada lensa sehingga terlihat pada jendela bidik objek yang semula kurang jelas menjadi jelas (fokus). Foto dikatakan fokus bila objek terlihat tajam/jelas dan memiliki garis-garis yang tegas (tidak kabur). Pada ring fokus, terdapat angka-angka yang menunjukkan jarak (dalam meter atau feet) objek dengan lensa.

B. EKSPOSURE
Hal paling penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pemotretan adalah unsur pencahayaan. Pencahayaan adalah proses dicahayainya film yang ada dikamera. Dalam hal ini, cahaya yang diterima objek harus cukup sehingga dapat terekam dalam film. Proses pencahayaan (exposure) menyangkut perpaduan beberapa hal, yaitu besarnya bukaan diafragma, kecepatan rana dan kepekaan film (ISO). Ketiga hal tersebut menentukan keberhasilan fotografer dalam mendapatkan film yang tercahayai normal, yaitu cahaya yang masuk ke film sesuai dengan yang dibutuhkan objek, tidak kelebihan cahaya (over exposed) atau kekurangan cahaya (under exposed).

 Bukaan Diafragma (apperture)
Diafragma berfungsi sebagai jendela pada lensa yang mengendalikan sedikit atau banyaknya cahaya melewati lensa. Ukuran besar bukaan diafragma dilambangkan dengan f/angka. Angka-angka ini tertera pada lensa : 1,4 ; 2 ; 2,8 ; 4 ; 5,6 ; 8 ; 11 ; 16 ; 22 ; dst. Penulisan diafragma ialah f/1,4 atau f/22. Angka-angka tersebut menunjukkan besar kecilnya bukaan diafragma pada lensa. Bukaan diafragma digunakan untuk menentukan intensitas cahaya yang masuk.

Hubungan antara angka dengan bukaan diafragma ialah berbanding terbalik.
"Semakin besar f/angka, semakin kecil bukaan diafragma, sehingga cahaya yang masuk semakin sedikit. Sebaliknya, semakin kecil f/angka semakin lebar bukaan diafragmanya sehingga cahaya yang masuk semakin banyak."

Kecepatan Rana (shutter speed)
Kecepatan rana ialah cepat atau lambatnya rana bekerja membuka lalu menutup kembali. Shutter speed mengendalikan lama cahaya mengenai film. Cara kerja rana seperti jendela. Rana berada di depan bidang film dan selalu tertutup jika shutter release tidak ditekan, untuk melindungi bidang film dari cahaya. Saat shutter release ditekan, maka rana aka membuka dan menutup kembali sehingga cahaya dapat masuk dan menyinari film.
Ukuran kecepatan rana dihitung dalam satuan per detik, yaitu: 1 ; 2 ; 4 ; 8 ; 15 ; 30 ; 60 ; 125 ; 250 ; 500 ; 1000 ; 2000 ; dan B. .Angka 1 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/1 detik. Angka 2000 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/2000 detik, dst. B (Bulb) berarti kecepatan tanpa batas waktu (rana membuka selama shutter release ditekan)

Hubungan antara angka dengan kecepatan rana membuka menutup ialah berbanding lurus. "Semakin besar angkanya berarti semakin cepat rana membuka dan menutup, maka semakin sedikit cahaya yang masuk. Semakin kecil angkanya, berarti semakin lambat rana membuka dan menutup, maka semakin banyak cahaya yang masuk"

Kepekaan Film (ISO)
Makin kecil satuan film (semakin rendah ISO), maka film kurang peka cahaya sehingga makin banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut, sebaliknya semakin tinggi ISO maka film semakin peka cahaya sehingga makin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut. Misal, ASA 100 lebih banyak membutuhkan cahaya daripada ASA 400.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites